Kami Merindukan Senja

Kicauan burung
Pada senja itu membuatku merasakan sejuknya alam
Sambil menikmati kopi hitam, berdua seorang sahabat yang ku banggakan
Pahit, tetapi ini terasa nikmat.
Layaknya
Kesejukan alam semesta indah, tak dapat lagi kita rasakan seperti dulu, dikala angin yang menerpa kota besar yang kita tempati ini. Saat ini angin itu terus menghembus tapi tak ada lagi kesejukan yang ku rasakan
Kota ini di penuhi dengan orang-orang yang tak berakal tak menghiraukan akan ciptaan tuhan
Kota ini rusak dengan tangan-tangan jahil, yang begitu bodoh, yang begitu tak merasakan dampak yang akan kita dapati dikemudian hari
Merusak alam dengan tak tahu apa arti rasa indah
Padamu pencinta alam, padamu pencinta ciptaan
Teruslah berkarya, teruslah menjaga keindahan alam yang kita punya. Jangan pernah merasa bahwa tempat kita berpijak bukanlah rumah kita
Jika layak kalian pasti sadar, kalian pasti tahu rasanya bagaimana kehilangan sejuknya alam
Air mata bercucuran dikala angin segar tak dirasakan, kami rindu
Kami layak merindu akan kesejukan alam, yang selalu kami rasakan pada sore senja itu
Bukan kesejukan yang menyiksa seperti ini
Apakah sudah layak, merasakan kesujakan yang menyiksa, hingga tanpa berfikir panjang merusak pemberian pencipta untuk kita?
Apakah kita masih layak? Tidak, ini layak untuk yang menyadari, bukan kalian yang tak menyadari, kalian tak layak. Andai saja didunia ini ada hukuman untuk para perusak cipta, kalian lah yang berhak dan layak untuk peergi dari kota dan dunia tempat kita berpijak ini
Seharusnya kita menjaga dan menyadari semua
Agar alam dan kicauan burung bisa kita rasakan lagi untuk selamanya, terima kasih padamu pencinta dan pencipta alam ku

By : Wiwid Adytia Ningsih
Mahasiswi Jurnalistik
Universitas Haluoleo

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *